Tidak terasa hampir satu tahun saya berdinas di Papua dan saya belum pernah melihat kuda ada disini kata senior banyak kuda di daerah merauke kuda yang beasal dari Sumba. Satu waktu saya akan pulang ke rumah saya melihat didaerah Skyland orang sini menyebut nama daerah itu yang masih di wilayah kota jayapura ada seekor kuda sedang berkeliaran dan makan rumput disekitar situ dari lihat jenisnya, itu kuda jenis sandalwood atau lebih dikenal kuda Sumba, kesimpulan saya bahwa kuda bisa berkembang biak disini atau Papua.
Kita mengenal di Papua ada wilayah pegunungan dengan udara dingin contohnya Wilayah pegunungan tengah Provinsi Papua atau daerah Wamena mempunyai kondisi topografis berbukit-bukit dengan masih adanya
puncak salju abadi Gunung Carstens dan Taman Nasional Lorentz yang
berhawa sejuk dengan pemandangan yang indah. Di wilayah pegunungan
tengah ini bermukim kurang lebih sekitar 1,3 juta jiwa penduduk (mayoritas asli
Papua) yang tersebar di 19 Kabupaten, terdiri dari 250-an distrik dengan
2000-an Kampung/Desa yang tersebar di area seluas + 250.000.000 Km2. Untuk mencapai wilayah pegunungan tengah dilakukan dengan naik
pesawat terbang dari Jayapura atau dari Timika ke Wamena (ibukota
Kabupaten Jayawijaya), dilanjutkan dengan jalan darat atau naik pesawat
kecil ke kota kabupaten atau distrik disekitarnya yang masih
memungkinkan dicapai dan sangat tergantung dengan cuaca. Namun, saat ini
untuk mencapai pusat distrik atau kampung/desa di wilayah pegunungan
tengah tersebut diatas sangat sulit karena sebagian besar belum ada
jaringan jalan yang menghubungkan antardistrik dan antarkampung,
kecuali jalan setapak untuk pejalan kaki, sehingga untuk mencapai suatu
distrik ke distrik lain yang hanya berjarak sekitar 30 - 50 Km, bisa
lebih dari satu atau dua hari karena berbukit.
Membangun jaringan jalan yang menghubungkan antar pusat-pusat distrik
dan kampung/desa di wilayah pegunungan tengah dibutuhkan waktu lama dan
biaya yang mahal. Selain itu, apabila menggunakan mobil sebagai sarana
transportasi, maka akan membutuhkan BBM yang harganya sangat mahal
(mencapai 5 x bahkan lebih dari harga normal), sehingga harga barang
kebutuhan pokok lainnya di wilayah pegunungan tengah juga menjadi sangat
mahal (misalnya harga semen per-zak di Wamena Rp.1.650.000,-
Dengan kondisi seperti itu, ada baiknya kalau ada alternatif
sarana transportasi yang lebih murah untuk dapat mengangkut barang dan
orang antar Distrik atau Kampung/Desa di wilayah pegunungan tengah Papua, sehingga
harga barang kebutuhan pokok dapat lebih murah.
Bagaimana dengan alternatif ‘kuda’
Kuda adalah binatang yang sudah banyak dipakai sebagai sarana
transportasi diatas bumi ini sejak berabad-abad lalu, baik sebagai ‘kuda
tunggang’ untuk mengangkut orang dan ‘kuda beban’ untuk mengangkut
barang. Mungkin perlu dipelajari ‘jenis kuda yang cocok untuk dapat
hidup dengan iklim di wilayah pegunungan tengah Papua. Selain itu, kuda
juga bisa dipakai sebagai hiburan, seperti untuk pacuan, wisata dan
penarik kereta mainan anak-anak. Pasukan Kavaleri juga menggunakan kuda
sebagai alat transportasi.
Kuda merupakan salah satu alternatif yang mungkin dapat dipilih
sebagai alat sarana transportasi di wilayah pegunungan tengah yang
berbukit-bukit dengan kondisi jaringan jalan tanah atau jalan setapak.
Kuda tidak membutuhkan BBM yang mahal, karena cukup makan rumput atau
makanan alamiah setempat yang mungkin banyak terdapat diwilayah
pegunungan. Selain itu, ditinjau dari aspek lingkungan mungkin sangat
sesuai karena tidak menimbulkan pencemaran gas CO2, bahkan kotorannya
(faeces) dapat dibuat pupuk untuk tanaman. Namun demikian, kuda
membutuhkan perawatan yang baik untuk kelangsungan hidupnya. Untuk itu,
dibutuhkan proses perencanaan yang matang agar masyarakat setempat dapat
menerima dan memanfaatkan kuda sebagai binatang yang berfungsi sebagai
sarana transportasi.
Memanfaatkan kuda sebagai sarana transportasi di wilayah
pegunungan tengah Papua, dapat dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut
sebagai berikut:
- Dipilih beberapa lokasi distrik yang akan dijadikan percontohan
awal, misalnya ditentukan 10 distrik dari beberapa Kabupaten yang
lokasinya berdekatan dalam radius sekitar 100 Km, yang masih harus
ditempuh dengan jalan kaki dari Wamena;
- Mendatangkan kuda dengan jenis yang cocok untuk hidup di wilayah
pegunungan tengah Papua (misalnya 30 ekor terdiri 10 ekor jantan &
20 ekor betina), dengan tenaga pelatih khusus (misalnya diambil dari
Pasukan Kavaleri atau dari peternakan kuda di Parompong – Jawa Barat) ;
- Pada tahap awal, sekitar 2 - 3 bulan, ke 30 ekor kuda tersebut
dititipkan kepada Batalyon TNI-AD di Kabupaten Jayawijaya untuk
penyesuaian iklim, pelatihan dan mendapatkan pemeliharaan;
- Menyiapkan ke-10 distrik yang akan dibantu dengan masing-masing 3
ekor kuda (1 jantan & 2 betina), kandang kuda dan tenaga
perawatnya, juga diadakan pelatihan kepada ‘aparat distrik’ yang akan
diberi bantuan kuda tunggang/beban dengan tenaga pelatih khusus;
- Ditargetkan pada bulan ke-4 semua kuda sudah dapat dikirimkan ke-10 distrik yang telah dipersiapkan;
- Pada tahap awal, pemanfaatan kuda tersebut dapat dipakai sebagai
alat transportasi untuk aparat distrik dalam kegiatan pelayanan
masyarakat sehari-hari. Kemudian dapat dimanfaatkan untuk alat angkut
barang antardistrik dan antar kampung/desa;
- Diharapkan dalam waktu 1 – 2 tahun kegiatan sarana transportasi
dengan ‘kuda’ sudah dapat mulai dimanfaatkan oleh masyarakat setempat.
Selanjutnya kuda dapat menjadi alternatif sarana transportasi dan
berfungsi dalam kegiatan bisnis oleh masyarakat setempat.
sumber ref Gate Master UP4B